<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Siapakah yang akan masuk Surga?</title>
	<atom:link href="http://www.imanka.com/558/2010/06/20/siapakah-yang-akan-masuk-surga.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.imanka.com/558/2010/06/20/siapakah-yang-akan-masuk-surga.html</link>
	<description>Logika, Filsafat, Epistemologi &#38; Irfan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 May 2011 05:57:26 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
	<item>
		<title>By: Ki</title>
		<link>http://www.imanka.com/558/2010/06/20/siapakah-yang-akan-masuk-surga.html/comment-page-4#comment-536</link>
		<dc:creator>Ki</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 07:02:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://imanka.com/?p=558#comment-536</guid>
		<description>TAMBAHAN! 

Salah persepsi seperti ini lah yang terjadi akibat dari &quot;hanya bisa cepat baca Al-Quran tanpa tahu artinya&quot;

Kagum terhadap anak TK dan SD yang sudah lancar baca Al-Quran? Wajar saja sih, tapi apa mereka tahu arti yang mereka baca? Ini memang jalan pikir orang Indonesia, disuruh apa saja mau. Tidak berpikir kritis dengan bertanya balik, apa arti sebenarnya.

Jujur saja, saya mungkin salah satu dari anak TK/SD tersebut (atau kalo boleh lebih jujur lagi SMP kelas 3 saya baru bisa baca Quran). Bangga rasanya ketika akhirnya bisa membaca Quran. Tidak lagi harus ketakukan ketika dipanggil giliran baca Quran karena tidak bisa. 

Perasaan bangga ini terus menempel pada diri saya sampai bulan Juli kemarin. Saya mendapat kesempatan untuk pergi Summer Camp di Filipina. Dimana saya bertemu dengan orang-orang yang sebaya dari berbagai penjuru dunia. Memasuki hari ke-5 camp, saya mulai akrab dengan mereka semua. Sampai pada suatu malam, saya sedang mengobrol dengan teman 2 teman dari Spanyol dan Jordania. Si Jordania tentu saja fasih berbahasa Arab, maka saya yg kebetulan membawa surat Yaasin di dalam koper bersemangat memamerkan kebolehan saya membaca tulisan Arab. Setelah cas ces cus membaca beberapa ayat, dia tentu terkesan. Kemudian dia melontarkan pertanyaan berikut, &quot;So, do you speak Arabic then?&quot; Saya menggeleng. &quot;So you learned how to read Arabic writing without learning the language? So basically you have no idea of what you&#039;ve just read? Hmm, that&#039;s really funny&quot;

Tidak usah berpanjang lebar lagi saya menjelaskan inti dari cerita tersebut. Sepertinya sudah cukup jelas bukan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>TAMBAHAN! </p>
<p>Salah persepsi seperti ini lah yang terjadi akibat dari &#8220;hanya bisa cepat baca Al-Quran tanpa tahu artinya&#8221;</p>
<p>Kagum terhadap anak TK dan SD yang sudah lancar baca Al-Quran? Wajar saja sih, tapi apa mereka tahu arti yang mereka baca? Ini memang jalan pikir orang Indonesia, disuruh apa saja mau. Tidak berpikir kritis dengan bertanya balik, apa arti sebenarnya.</p>
<p>Jujur saja, saya mungkin salah satu dari anak TK/SD tersebut (atau kalo boleh lebih jujur lagi SMP kelas 3 saya baru bisa baca Quran). Bangga rasanya ketika akhirnya bisa membaca Quran. Tidak lagi harus ketakukan ketika dipanggil giliran baca Quran karena tidak bisa. </p>
<p>Perasaan bangga ini terus menempel pada diri saya sampai bulan Juli kemarin. Saya mendapat kesempatan untuk pergi Summer Camp di Filipina. Dimana saya bertemu dengan orang-orang yang sebaya dari berbagai penjuru dunia. Memasuki hari ke-5 camp, saya mulai akrab dengan mereka semua. Sampai pada suatu malam, saya sedang mengobrol dengan teman 2 teman dari Spanyol dan Jordania. Si Jordania tentu saja fasih berbahasa Arab, maka saya yg kebetulan membawa surat Yaasin di dalam koper bersemangat memamerkan kebolehan saya membaca tulisan Arab. Setelah cas ces cus membaca beberapa ayat, dia tentu terkesan. Kemudian dia melontarkan pertanyaan berikut, &#8220;So, do you speak Arabic then?&#8221; Saya menggeleng. &#8220;So you learned how to read Arabic writing without learning the language? So basically you have no idea of what you&#8217;ve just read? Hmm, that&#8217;s really funny&#8221;</p>
<p>Tidak usah berpanjang lebar lagi saya menjelaskan inti dari cerita tersebut. Sepertinya sudah cukup jelas bukan?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

