DALAM Alquran (Yasin: 65) dinyatakan, di akhirat kelak anggota tubuh kita akan memberikan kesaksian atas apa yang diperbuatnya selama di dunia.
Tangan, kaki, dan anggota badan lain akan berbicara sehingga mulut tidak bisa membantah dan berbohong. Pendeknya dalam pengadilan di akhirat kelak kita tak akan mampu membohongi diri sendiri dan malaikat karena anggota tubuh akan menjadi saksi yang bisa memberatkan atau meringankan, tergantung pada perbuatan yang pernah dilakukan di dunia. Hakim yang kita hadapi di akhirat kelak bukanlah hakim yang dapat disuap dengan uang sebagaimana yang terjadi di dunia.
Tak akan ada yang mampu menolong diri kita kecuali rekaman iman dan amal kebajikan kita sendiri. Apa yang disampaikan Alquran di atas secara ilmiah sangat mudah untuk dibuktikan bahwa tubuh itu merekam apa yang biasa kita lakukan dan pikirkan. Contoh yang paling sederhana adalah rekaman pengalaman naik sepeda. Mungkin ada di antara kita sudah puluhan tahun tidak pernah naik sepeda.Tetapi karena dahulunya pernah dan biasa naik sepeda, andaikan disodori sepeda pasti bisa mengendarainya.
Mengapa? Karena tubuh kita, terutama kaki dan tangan,memiliki rekaman bagaimana mengendarai sepeda,sehingga rekaman tadi muncul lagi ketika disuruh naik sepeda. Namun, mereka yang dahulunya tidak pernah,yang berarti tidak memiliki rekaman pengalaman, pasti perlu waktu lama dan mulai dari nol untuk belajar naik sepeda. Contoh ini dapat diperbanyak lagi, misalnya apa yang direkam oleh lidah tentang rasa makanan.
Tanpa diberi tahu apa namanya, begitu melihat, mencium baunya, dan merasakan rasa makanan yang dahulu suka kita makan waktu kecil sudah langsung tahu apa nama makanan itu dan bagaimana rasanya. Bahkan andaikan makanan itu disajikan dalam keadaan gelap, kita akan bisa mengenalinya. Bagaimana bisa? Karena lidah kita memiliki rekaman akan berbagai rasa makanan.
Dalam sebuah penelitian kajian neurologi dibuktikan bahwa selsel otak ternyata menyimpan berbagai informasi dan pengalaman yang terekam sejak kecil yang umumnya sudah kita lupakan. Ketika dilakukan eksperimen dengan pembedahan otak, tetapi yang bersangkutan tetap sadar, ternyata ketika dirangsang sel-sel saraf tertentu mampu menceritakan berbagai pengalaman sewaktu kecil.Eksperimen ini memperkuat teori bahwa semua yang pernah kita ketahui dan pikirkan terekam dalam jaringan saraf otak. Jadi, apa yang dikatakan Alquran tadi semakin diperkuat oleh eksperimen ilmiah.
Teori bahwa tubuh merekam saya amati dan buktikan sendiri ketika ayah saya sakit, dirawat di rumah sakit di Magelang selama satu minggu. Saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari peristiwa ini. Betapa tidak? Bayangkan, ketika dia sembuh dan telah kembali ke rumah, saya bertanya kepadanya, “Bagaimana pengalaman Bapak ketika di rumah sakit?”Dia jawab, “Saya lupa.” Sungguh ini hal yang aneh. Dia bilang sudah lupa dengan apa yang terjadi di rumah sakit. Jadi, secara fisik sebenarnya dia memang sakit, tetapi secara mental dia sama sekali tidak merasa dirinya sakit.
Yang sangat mengesankan saya, saat dirawat di rumah sakit, setiap kali datang waktu salat, dia selalu minta air untuk wudu atau minta diberi kesempatan untuk tayamum karena mau salat. Rupanya tubuh dan mentalnya merekam ritme jadwal salat sehingga setiap datang waktu salat, jam badannya (biological clock) memberi isyarat secara refleks dan otomatis bergegas untuk mendirikan salat karena ayah saya ketika sehat selalu salat tepat waktu lima kali sehari.
Jadi, ketika sakit, jam badan itu bekerja layaknya weaker yang memberi isyarat karena di dalamnya memiliki rekaman habit. Contoh lain yang dengan mudah kita saksikan dalam peristiwa-peristiwa sehari-hari adalah pengalaman sopir bus malam lintas kota. Dulu, waktu tol Cipularang belum dibuat, sebagian besar orang menggunakan jalur Puncak untuk pergi dari Jakarta ke Bandung. Pernahkah kita membayangkan bagaimana hebatnya para sopir bus jurusan Jakarta– Bandung itu ketika melawati Ciawi, Megamendung, Cisarua, Puncak Pass, Cipanas, Cianjur, dan Bandung?
Sopir-sopir bus itu dengan mudahnya menyusuri jalan berkelok yang naik-turun. Mereka sangat lihai. Mereka hafal betul kapan dan di mana harus berbelok. Mereka tahu kapan dan di mana akan ada tanjakan dan tikungan, bahkan mereka tahu di mana akan ada banyak kerumunan orang di jalan. Mengapa mereka bisa sehebat itu? Mengapa sopir itu bisa secara refleks mengendarai dan hafal situasi jalur Jakarta–Bandung? Jawabannya kita pasti tahu: itu karena kebiasaan.
Mereka telah terbiasa setiap hari melewati rute itu sehingga anggota tubuhnya merekam situasi dan keadaan yang dilaluinya. Begitu juga orang yang dulu pernah mahir bermain ping-pong atau bermain badminton, ketika dia sudah tua, meskipun sudah meninggalkan kebiasaan itu selama puluhan tahun, pasti dia akan sanggup memainkannya kembali. Mungkin gerakan dan tingkat kelihaiannya berbeda dengan masa mudanya, tetapi kemampuan dan teknik dasar bermainnya tentu akan terlihat.Jadi, kebiasaan masa lalu tak akan mudah terlupakan karena tubuh ini merekam secara kuat apa yang pernah menjadi kebiasaan dan kesukaan atau hobi.
Cerita di atas menyimpan pesan yang sangat dalam. Bahwa hendaknya kita membiasakan berpikir, berbicara, dan berbuat yang baik-baik, agar ketika sakit atau menjelang ajal nanti, rekaman kebaikan itu yang akan menemani dan mengawal kita menempuh perjalanan lebih lanjut. Coba renungkan, ada kejadian pada orangtua yang menjelang ajal, tetapi sangat-angat sulit untuk mengucapkan zikir seperti tahlil, tahmid, takbir. Hal ini disebabkan di masa hidupnya bacaan-bacaan zikir itu sangat asing, hati dan lidahnya tidak memiliki rekaman zikir.
Dia tidak mempunyai memori yang dapat membangkitkan kesadarannya untuk mengucapkan kalimah tayyibahitu menjelang ajalnya. Sebaliknya,sering kali saya menyaksikan bagaimana mudahnya seseorang mengucapkan zikir atau membaca asmaul husna pada saat menjelang kematiannya.Ini lantaran dia telah terbiasa untuk mengucapkan kalimat itu di masa hidupnya. Dia telah membiasakan diri untuk membasahi lidahnya dengan kalimat zikir.
Siang malam dia berzikir. Sebelum dan sesudah salat dia berzikir. Ketika tersandung batu dia beristigfar. Ketika mendengar petir dia bertasbih. Praktis, kalimat zikir telah menjadi bagian dari kebiasaannya sehari-hari sehingga ketika ajal datang menjemput dia dengan mudah mengucapkan kalimat zikir untuk menutup usianya. Karena itu, bagi orang yang mempunyai kebiasaan buruk yang selalu mengucapkan kata-kata kotor di masa hidupnya, bisa jadi menjelang sakaratul maut yang akan diingatnya hanya kata-kata kotor.
Orang yang biasa mengejek, mengomel, atau mencemooh orang lain akan tertutup hatinya untuk mengucapkan kata-kata yang baik, sebab rekaman atau memori hidupnya selalu dipenuhi dengan kebiasaan buruk itu. Saya sering kali mendapatkan kisah-kisah nyata yang menceritakan hal itu. Semoga kisah-kisah di atas dapat menjadi pelajaran berharga untuk menghadapi kematian sehingga kita menjumpai Izrail dengan senyum persahabatan.
Mari kita membiasakan diri untuk melafalkan kata-kata yang baik,selalu berzikir dan mengingat Allah SWT,membiasakan diri mengerjakan salat, berpuasa dan bersedekah,serta berbuat baik kepada sesama,sebab semua itu akan terekam dalam memori kita sepanjang hayat, baik saat hidup di dunia, menjelang sakaratul maut, atau setelah kematian kita. Husnul khatimah (pengujung yang baik) di masa kematian kita itu tidak bisa diraih dengan tiba-tiba.
Ia tak bisa dipaksa dan dibimbing oleh orang lain dengan mudah karena diri kitalah yang menentukan apakah kita sanggup mendapatkan akhir yang baik atau tidak. Husnul khatimah merupakan akumulasi dari perjalanan panjang seseorang di masa hidupnya. Rekam jejak kehidupan seseorang menentukan hasil akhir dari perjalanan hidupnya di dunia.(*)
PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Rektor UIN Syarif Hidayatullah
Taken from mailing list : parapemikir@yahoogroups.com
Fosted by : lasykarlima@ —-> from : www.seputar-indonesia.com
September 4th, 2009 at 7:25 pm
Saya sangat senang dengan banyaknya tulisan mengenai keagamaan khususnya dari kalangan anak muda, semoga makin jaya Islam di Indonesia dengan lahirnya pemikir muda, walaupun referensi harus diperbanyak………………………..Salam Dr. Aa Suryana ,Tasikmalaya
September 4th, 2009 at 7:25 pm
Saya sangat senang dengan banyaknya tulisan mengenai keagamaan khususnya dari kalangan anak muda, semoga makin jaya Islam di Indonesia dengan lahirnya pemikir muda, walaupun referensi harus diperbanyak………………………..Salam Dr. Aa Suryana ,Tasikmalaya
October 3rd, 2009 at 6:11 am
Alhamdulillah, Allah telah membimbing saya untuk membaca artikel ini. Setelah membaca ‘Tubuh ini Merekam’ yang hubungannya secara ilmiah ini membuktikan anggapan saya yang selama ini ‘perintah Allah ini dan itu pasti ada hubungannya secara ilmiah’ dan sekarang satu sudah saya temukan.
October 3rd, 2009 at 6:11 am
Alhamdulillah, Allah telah membimbing saya untuk membaca artikel ini. Setelah membaca ‘Tubuh ini Merekam’ yang hubungannya secara ilmiah ini membuktikan anggapan saya yang selama ini ‘perintah Allah ini dan itu pasti ada hubungannya secara ilmiah’ dan sekarang satu sudah saya temukan.
May 28th, 2010 at 1:51 am
Tubuh dan jiwa/roh seperti pakaian dan badan ini. Tubuh tanpa jiwa/roh adalah mati. Kalau tubuh yg tanpa jiwa/roh disuruh merasakan manisnya gula dengan lidahnya, tentu tubuh itu tidak akan menjawab karena ia (tubuh) itu mati walaupun sebelumnya ia pernah merasakan manisnya gula. Begitu juga dengan jiwa/roh. Jiwa/roh tidak bisa merasakan rasa sakit, rasa manis, rasa pahit, dan rasa-rasa lainnya yg memerlukan keberadaan tubuh (fisik) utk merasakan rasa tersebut. Jadi, tidak mungkin tubuh dapat bersaksi dan mengatakan bahwa ia (tubuh) pernah begini atau begitu tanpa jiwa/roh karena tubuh tanpa jiwa/roh adalah mati.
Kalaupun tubuh dan jiwa/roh disatukan kembali, ia (manusia) tidak akan ingat 100% apa yg ia perbuat di masa lalu. Misalkan manusia itu hanya pernah mencuri sekali pada masa hidupnya, ia tidak akan ingat akan hal (perbuatannya) itu karena mencuri bukan kebiasaannya.
Dan bagaimana dgn orang yg menjadi pelaku bom bunuh diri yg sebagian tubuhnya hancur??? Kalaupun ia diberi tubuh yg baru, ia tidak akan ingat dgn perbuatannya itu. Seperti lidah yg pernah merasakan rasa manis, karena lidah itu (misalkan) hancur akibat bom, Tuhan kemudian menggantinya dgn lidah baru yg tidak pernah merasakan rasa manis sama sekali. Tentu kesaksiannya akan berbeda dari yg sebenarnya.
Salam
May 28th, 2010 at 1:51 am
Tubuh dan jiwa/roh seperti pakaian dan badan ini. Tubuh tanpa jiwa/roh adalah mati. Kalau tubuh yg tanpa jiwa/roh disuruh merasakan manisnya gula dengan lidahnya, tentu tubuh itu tidak akan menjawab karena ia (tubuh) itu mati walaupun sebelumnya ia pernah merasakan manisnya gula. Begitu juga dengan jiwa/roh. Jiwa/roh tidak bisa merasakan rasa sakit, rasa manis, rasa pahit, dan rasa-rasa lainnya yg memerlukan keberadaan tubuh (fisik) utk merasakan rasa tersebut. Jadi, tidak mungkin tubuh dapat bersaksi dan mengatakan bahwa ia (tubuh) pernah begini atau begitu tanpa jiwa/roh karena tubuh tanpa jiwa/roh adalah mati.
Kalaupun tubuh dan jiwa/roh disatukan kembali, ia (manusia) tidak akan ingat 100% apa yg ia perbuat di masa lalu. Misalkan manusia itu hanya pernah mencuri sekali pada masa hidupnya, ia tidak akan ingat akan hal (perbuatannya) itu karena mencuri bukan kebiasaannya.
Dan bagaimana dgn orang yg menjadi pelaku bom bunuh diri yg sebagian tubuhnya hancur??? Kalaupun ia diberi tubuh yg baru, ia tidak akan ingat dgn perbuatannya itu. Seperti lidah yg pernah merasakan rasa manis, karena lidah itu (misalkan) hancur akibat bom, Tuhan kemudian menggantinya dgn lidah baru yg tidak pernah merasakan rasa manis sama sekali. Tentu kesaksiannya akan berbeda dari yg sebenarnya.
Salam
July 1st, 2010 at 11:09 am
Saya ingat ceramah Cak Nur di Masjid Kwitang tentang masalah tubuh bisa merekam. Sangat asik bacaanya. Makasih kang, salam kenal
July 1st, 2010 at 11:09 am
Saya ingat ceramah Cak Nur di Masjid Kwitang tentang masalah tubuh bisa merekam. Sangat asik bacaanya. Makasih kang, salam kenal
July 3rd, 2010 at 10:19 am
Alhamdulillah,memang kesadaran seperti ini harus disampaikan kepada semua Insan agar tumbuh kesadaran tentang Amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan semua kenikmatan yang telah diberikan kepada kita semua Salam Bahagia Wassalaamu ‘Alaikum wr wb
July 3rd, 2010 at 10:19 am
Alhamdulillah,memang kesadaran seperti ini harus disampaikan kepada semua Insan agar tumbuh kesadaran tentang Amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan semua kenikmatan yang telah diberikan kepada kita semua Salam Bahagia Wassalaamu ‘Alaikum wr wb
July 15th, 2010 at 2:04 am
Salam. s. Muhammad Q.S. 47: 367. menytakan bahwa hidup manusia dimuka bumi HANYALAH “perminan dan senda gurau belaka”.. kemudian ada keterangan tentang takqwa dsb.
Bukankah pada mulanya manusia LAHIR sudah TAQWA, tinggal menjalani riwayat hidupnya yang konon sudah ada jalurnya, jejak seperti jalur bekas dilalui sekor siput. Seekor siput tak mungkin mempunyai jejak lebih dari SARU JALUR. Kenanan, kekiri , naik atau turun ya itulah ” perjalanan singkat ” selama hidupnya dibumi. Jadiii buat apa susah-susah memikirkan mau kekanan atau keiri? Sedang Allah sendiri memberi OPSI mau KAFIR atau IMAN silahkan saja. Lhoo0… apakah hidup ini seperti itu? Setiap orang mendqpat JADWAL dan JATAH selama hidupnya yang relatif amat singkat. Allah berfirmn : ” Wa llainsyakartum la ajidanakum, wa inkafartum inna adzaabi la syadiid.” Ya sudah bersyukur saja selama hidup. Kalau bisa jalanai sholat 50 ( limapuluh) kali sehari semalam, menurut PERINTAH aseli Allah kepada Nabi Muhammad. Lhooo Firman Allah yang sungguh benar.. kok ditawar oleh Nabi ? Apakah Allah tidak rasional dengan FirmanNya? Yaaa… sebagai MANUSIA Nabi mempunyai RASIO, bahkan dalam HADIS-nya mengatakan : ” Tidak berAGAMA orang yang tidak menggunakan akalknya.” Nabi menawar perintah sembahyang 50 kali sehari-semalam , karena beliau menggunakan akalnya. Klu tidak kan perintah itu langsung disanggupi saja, betapapun beratnya. Inilah rasional alaa agama ISLAM. Dan lhoo Iblis sudah memperingatkan Allah, bahwa dengan menciptakan ADam… anak cucunya akan melakukan penumpahan darah antar sesamanya dan bikin kerusakan dimuka bumi. Lha kok begitu pinternya si IBlis yaa? Kan sekarang dia bertepuk tangan karena apa yang dikatakan kepada Allah ternyata BENAR. bagaimana to ini sejujurnya saja?
Lho perintah Allah yang SUBSTANSIAL bagi umat manusia ada di s. an Nhl Q.S. 16: 90. yang adalah inti sari DEKLARASI HAM yang 14 abad bru nuncul setalh FirmanNya ditulis di al Quran. Bagaimana to ini ? Ekonomi GLOBAL ada di az Zykhruf Q.S. 43: 32. Kalau sejak itu difahami dan dihayati manusia maka niscaya tak ada “kolonialisme”. “imperialisme” .. dan segala kegiatan ekonomi yang ” hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri atau komplotan manusia yang serakah uang dan harta benda duniawi ini. Bukan begitu? Jadiiii… marilah KAJI ulang baik-baik Firmannya di semua kitab suci samawi. sesuai petunjuk Al;lah di s. al Maaidah Q.S. 5: 66, 67, 68 supaya kita tidak semakin DURHAKA dan semakin KAFIR, dan Allah menjaminrejeki umat manusia. Rupanya hidup yang model sekarang ini hanya untuk ” ngaji-pumpung”, selagi hidup dimuka bumi memanjakan “keinginan” akan kenikmatan duniawi, kalau bisa yaa sepuas-puasnya. Tokh akhirnya HARUS… mati. Ya sudaah… mari kita lakukan apa saja yang kita sukai, adapun akibat perbuatan setiap orang… orang itu sendiri akan menaggung akibatnya. Gitu aja kok REPOT. Orang sudah ditakut-takuti akan kesengsaraan NERAKA…. juga tidak takut… kecuali yang masih berjiwa kekanak-kanakan dan .. takut kepada MEMEDI. Lhoo kok gituu? terpulang kembali kepada kita masig-masing. Kan kita pribadi adalah MAJIKAN dari diri ini, mau apa dan bagaimana tergantung perintah MAJIKAN. Dan majikan kita ialah NAFSU kita lihat s. al A’raaf Q.S. 7: 172.. Ingatlah TUHANmu bertanya : ” Bukankah AKU ini Tuhanmu ( sesembahanmu.) Ya yaa kebanyakan kita menyembah HAWA-NAFSU.sendiri. Mula-mula SESEMAHAN.. siHAWA-NAFSU memerintahkan sepasang asyik dan masyuk untuk berSENGGAMA dst, maka bermunculan manusia-manusia generasi penerus yang juga ” menyembah HAWA-NAFSU.” Pemutar balikan, memutar-mutar lidah hendak memadamkan CAHAYA ALLAH ditulis di s. atTaubah Q.S. 9: 32. Apakah kita akan ikut-ikutan memutar-mutar lidah hendak memadamkan CAHAya aLLAH ? mENGAPA ORANG HAMPIR-HAMPIR TIDAK MEMAHAMI ARTI KALIMAT DALAM BAHASANYA SENDIRI. S. AN nIISA q.s. 4: 78. Mari kita renungkan mendlam dan jangan hanya ikut-ikutan atau LATAH. Gunakan akal budi nurani s. al Baqarah Q.S. 2: 269. Maka barulah kita bisa mengerti HIKMAH dari Allah, kalau tidak ya nggeladrah saja sampai mati. Ya sudaaaaaag. Merdekaaa.
July 15th, 2010 at 2:04 am
Salam. s. Muhammad Q.S. 47: 367. menytakan bahwa hidup manusia dimuka bumi HANYALAH “perminan dan senda gurau belaka”.. kemudian ada keterangan tentang takqwa dsb.
Bukankah pada mulanya manusia LAHIR sudah TAQWA, tinggal menjalani riwayat hidupnya yang konon sudah ada jalurnya, jejak seperti jalur bekas dilalui sekor siput. Seekor siput tak mungkin mempunyai jejak lebih dari SARU JALUR. Kenanan, kekiri , naik atau turun ya itulah ” perjalanan singkat ” selama hidupnya dibumi. Jadiii buat apa susah-susah memikirkan mau kekanan atau keiri? Sedang Allah sendiri memberi OPSI mau KAFIR atau IMAN silahkan saja. Lhoo0… apakah hidup ini seperti itu? Setiap orang mendqpat JADWAL dan JATAH selama hidupnya yang relatif amat singkat. Allah berfirmn : ” Wa llainsyakartum la ajidanakum, wa inkafartum inna adzaabi la syadiid.” Ya sudah bersyukur saja selama hidup. Kalau bisa jalanai sholat 50 ( limapuluh) kali sehari semalam, menurut PERINTAH aseli Allah kepada Nabi Muhammad. Lhooo Firman Allah yang sungguh benar.. kok ditawar oleh Nabi ? Apakah Allah tidak rasional dengan FirmanNya? Yaaa… sebagai MANUSIA Nabi mempunyai RASIO, bahkan dalam HADIS-nya mengatakan : ” Tidak berAGAMA orang yang tidak menggunakan akalknya.” Nabi menawar perintah sembahyang 50 kali sehari-semalam , karena beliau menggunakan akalnya. Klu tidak kan perintah itu langsung disanggupi saja, betapapun beratnya. Inilah rasional alaa agama ISLAM. Dan lhoo Iblis sudah memperingatkan Allah, bahwa dengan menciptakan ADam… anak cucunya akan melakukan penumpahan darah antar sesamanya dan bikin kerusakan dimuka bumi. Lha kok begitu pinternya si IBlis yaa? Kan sekarang dia bertepuk tangan karena apa yang dikatakan kepada Allah ternyata BENAR. bagaimana to ini sejujurnya saja?
Lho perintah Allah yang SUBSTANSIAL bagi umat manusia ada di s. an Nhl Q.S. 16: 90. yang adalah inti sari DEKLARASI HAM yang 14 abad bru nuncul setalh FirmanNya ditulis di al Quran. Bagaimana to ini ? Ekonomi GLOBAL ada di az Zykhruf Q.S. 43: 32. Kalau sejak itu difahami dan dihayati manusia maka niscaya tak ada “kolonialisme”. “imperialisme” .. dan segala kegiatan ekonomi yang ” hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri atau komplotan manusia yang serakah uang dan harta benda duniawi ini. Bukan begitu? Jadiiii… marilah KAJI ulang baik-baik Firmannya di semua kitab suci samawi. sesuai petunjuk Al;lah di s. al Maaidah Q.S. 5: 66, 67, 68 supaya kita tidak semakin DURHAKA dan semakin KAFIR, dan Allah menjaminrejeki umat manusia. Rupanya hidup yang model sekarang ini hanya untuk ” ngaji-pumpung”, selagi hidup dimuka bumi memanjakan “keinginan” akan kenikmatan duniawi, kalau bisa yaa sepuas-puasnya. Tokh akhirnya HARUS… mati. Ya sudaah… mari kita lakukan apa saja yang kita sukai, adapun akibat perbuatan setiap orang… orang itu sendiri akan menaggung akibatnya. Gitu aja kok REPOT. Orang sudah ditakut-takuti akan kesengsaraan NERAKA…. juga tidak takut… kecuali yang masih berjiwa kekanak-kanakan dan .. takut kepada MEMEDI. Lhoo kok gituu? terpulang kembali kepada kita masig-masing. Kan kita pribadi adalah MAJIKAN dari diri ini, mau apa dan bagaimana tergantung perintah MAJIKAN. Dan majikan kita ialah NAFSU kita lihat s. al A’raaf Q.S. 7: 172.. Ingatlah TUHANmu bertanya : ” Bukankah AKU ini Tuhanmu ( sesembahanmu.) Ya yaa kebanyakan kita menyembah HAWA-NAFSU.sendiri. Mula-mula SESEMAHAN.. siHAWA-NAFSU memerintahkan sepasang asyik dan masyuk untuk berSENGGAMA dst, maka bermunculan manusia-manusia generasi penerus yang juga ” menyembah HAWA-NAFSU.” Pemutar balikan, memutar-mutar lidah hendak memadamkan CAHAYA ALLAH ditulis di s. atTaubah Q.S. 9: 32. Apakah kita akan ikut-ikutan memutar-mutar lidah hendak memadamkan CAHAya aLLAH ? mENGAPA ORANG HAMPIR-HAMPIR TIDAK MEMAHAMI ARTI KALIMAT DALAM BAHASANYA SENDIRI. S. AN nIISA q.s. 4: 78. Mari kita renungkan mendlam dan jangan hanya ikut-ikutan atau LATAH. Gunakan akal budi nurani s. al Baqarah Q.S. 2: 269. Maka barulah kita bisa mengerti HIKMAH dari Allah, kalau tidak ya nggeladrah saja sampai mati. Ya sudaaaaaag. Merdekaaa.
July 15th, 2010 at 2:05 am
Salam. s. Muhammad Q.S. 47: 36. menytakan bahwa hidup manusia dimuka bumi HANYALAH “perminan dan senda gurau belaka”.. kemudian ada keterangan tentang takqwa dsb.
Bukankah pada mulanya manusia LAHIR sudah TAQWA, tinggal menjalani riwayat hidupnya yang konon sudah ada jalurnya, jejak seperti jalur bekas dilalui sekor siput. Seekor siput tak mungkin mempunyai jejak lebih dari SARU JALUR. Kenanan, kekiri , naik atau turun ya itulah ” perjalanan singkat ” selama hidupnya dibumi. Jadiii buat apa susah-susah memikirkan mau kekanan atau keiri? Sedang Allah sendiri memberi OPSI mau KAFIR atau IMAN silahkan saja. Lhoo0… apakah hidup ini seperti itu? Setiap orang mendqpat JADWAL dan JATAH selama hidupnya yang relatif amat singkat. Allah berfirmn : ” Wa llainsyakartum la ajidanakum, wa inkafartum inna adzaabi la syadiid.” Ya sudah bersyukur saja selama hidup. Kalau bisa jalanai sholat 50 ( limapuluh) kali sehari semalam, menurut PERINTAH aseli Allah kepada Nabi Muhammad. Lhooo Firman Allah yang sungguh benar.. kok ditawar oleh Nabi ? Apakah Allah tidak rasional dengan FirmanNya? Yaaa… sebagai MANUSIA Nabi mempunyai RASIO, bahkan dalam HADIS-nya mengatakan : ” Tidak berAGAMA orang yang tidak menggunakan akalknya.” Nabi menawar perintah sembahyang 50 kali sehari-semalam , karena beliau menggunakan akalnya. Klu tidak kan perintah itu langsung disanggupi saja, betapapun beratnya. Inilah rasional alaa agama ISLAM. Dan lhoo Iblis sudah memperingatkan Allah, bahwa dengan menciptakan ADam… anak cucunya akan melakukan penumpahan darah antar sesamanya dan bikin kerusakan dimuka bumi. Lha kok begitu pinternya si IBlis yaa? Kan sekarang dia bertepuk tangan karena apa yang dikatakan kepada Allah ternyata BENAR. bagaimana to ini sejujurnya saja?
Lho perintah Allah yang SUBSTANSIAL bagi umat manusia ada di s. an Nhl Q.S. 16: 90. yang adalah inti sari DEKLARASI HAM yang 14 abad bru nuncul setalh FirmanNya ditulis di al Quran. Bagaimana to ini ? Ekonomi GLOBAL ada di az Zykhruf Q.S. 43: 32. Kalau sejak itu difahami dan dihayati manusia maka niscaya tak ada “kolonialisme”. “imperialisme” .. dan segala kegiatan ekonomi yang ” hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri atau komplotan manusia yang serakah uang dan harta benda duniawi ini. Bukan begitu? Jadiiii… marilah KAJI ulang baik-baik Firmannya di semua kitab suci samawi. sesuai petunjuk Al;lah di s. al Maaidah Q.S. 5: 66, 67, 68 supaya kita tidak semakin DURHAKA dan semakin KAFIR, dan Allah menjaminrejeki umat manusia. Rupanya hidup yang model sekarang ini hanya untuk ” ngaji-pumpung”, selagi hidup dimuka bumi memanjakan “keinginan” akan kenikmatan duniawi, kalau bisa yaa sepuas-puasnya. Tokh akhirnya HARUS… mati. Ya sudaah… mari kita lakukan apa saja yang kita sukai, adapun akibat perbuatan setiap orang… orang itu sendiri akan menaggung akibatnya. Gitu aja kok REPOT. Orang sudah ditakut-takuti akan kesengsaraan NERAKA…. juga tidak takut… kecuali yang masih berjiwa kekanak-kanakan dan .. takut kepada MEMEDI. Lhoo kok gituu? terpulang kembali kepada kita masig-masing. Kan kita pribadi adalah MAJIKAN dari diri ini, mau apa dan bagaimana tergantung perintah MAJIKAN. Dan majikan kita ialah NAFSU kita lihat s. al A’raaf Q.S. 7: 172.. Ingatlah TUHANmu bertanya : ” Bukankah AKU ini Tuhanmu ( sesembahanmu.) Ya yaa kebanyakan kita menyembah HAWA-NAFSU.sendiri. Mula-mula SESEMAHAN.. siHAWA-NAFSU memerintahkan sepasang asyik dan masyuk untuk berSENGGAMA dst, maka bermunculan manusia-manusia generasi penerus yang juga ” menyembah HAWA-NAFSU.” Pemutar balikan, memutar-mutar lidah hendak memadamkan CAHAYA ALLAH ditulis di s. atTaubah Q.S. 9: 32. Apakah kita akan ikut-ikutan memutar-mutar lidah hendak memadamkan CAHAya aLLAH ? mENGAPA ORANG HAMPIR-HAMPIR TIDAK MEMAHAMI ARTI KALIMAT DALAM BAHASANYA SENDIRI. S. AN nIISA q.s. 4: 78. Mari kita renungkan mendlam dan jangan hanya ikut-ikutan atau LATAH. Gunakan akal budi nurani s. al Baqarah Q.S. 2: 269. Maka barulah kita bisa mengerti HIKMAH dari Allah, kalau tidak ya nggeladrah saja sampai mati. Ya sudaaaaaag. Merdekaaa.
July 15th, 2010 at 2:05 am
Salam. s. Muhammad Q.S. 47: 36. menytakan bahwa hidup manusia dimuka bumi HANYALAH “perminan dan senda gurau belaka”.. kemudian ada keterangan tentang takqwa dsb.
Bukankah pada mulanya manusia LAHIR sudah TAQWA, tinggal menjalani riwayat hidupnya yang konon sudah ada jalurnya, jejak seperti jalur bekas dilalui sekor siput. Seekor siput tak mungkin mempunyai jejak lebih dari SARU JALUR. Kenanan, kekiri , naik atau turun ya itulah ” perjalanan singkat ” selama hidupnya dibumi. Jadiii buat apa susah-susah memikirkan mau kekanan atau keiri? Sedang Allah sendiri memberi OPSI mau KAFIR atau IMAN silahkan saja. Lhoo0… apakah hidup ini seperti itu? Setiap orang mendqpat JADWAL dan JATAH selama hidupnya yang relatif amat singkat. Allah berfirmn : ” Wa llainsyakartum la ajidanakum, wa inkafartum inna adzaabi la syadiid.” Ya sudah bersyukur saja selama hidup. Kalau bisa jalanai sholat 50 ( limapuluh) kali sehari semalam, menurut PERINTAH aseli Allah kepada Nabi Muhammad. Lhooo Firman Allah yang sungguh benar.. kok ditawar oleh Nabi ? Apakah Allah tidak rasional dengan FirmanNya? Yaaa… sebagai MANUSIA Nabi mempunyai RASIO, bahkan dalam HADIS-nya mengatakan : ” Tidak berAGAMA orang yang tidak menggunakan akalknya.” Nabi menawar perintah sembahyang 50 kali sehari-semalam , karena beliau menggunakan akalnya. Klu tidak kan perintah itu langsung disanggupi saja, betapapun beratnya. Inilah rasional alaa agama ISLAM. Dan lhoo Iblis sudah memperingatkan Allah, bahwa dengan menciptakan ADam… anak cucunya akan melakukan penumpahan darah antar sesamanya dan bikin kerusakan dimuka bumi. Lha kok begitu pinternya si IBlis yaa? Kan sekarang dia bertepuk tangan karena apa yang dikatakan kepada Allah ternyata BENAR. bagaimana to ini sejujurnya saja?
Lho perintah Allah yang SUBSTANSIAL bagi umat manusia ada di s. an Nhl Q.S. 16: 90. yang adalah inti sari DEKLARASI HAM yang 14 abad bru nuncul setalh FirmanNya ditulis di al Quran. Bagaimana to ini ? Ekonomi GLOBAL ada di az Zykhruf Q.S. 43: 32. Kalau sejak itu difahami dan dihayati manusia maka niscaya tak ada “kolonialisme”. “imperialisme” .. dan segala kegiatan ekonomi yang ” hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri atau komplotan manusia yang serakah uang dan harta benda duniawi ini. Bukan begitu? Jadiiii… marilah KAJI ulang baik-baik Firmannya di semua kitab suci samawi. sesuai petunjuk Al;lah di s. al Maaidah Q.S. 5: 66, 67, 68 supaya kita tidak semakin DURHAKA dan semakin KAFIR, dan Allah menjaminrejeki umat manusia. Rupanya hidup yang model sekarang ini hanya untuk ” ngaji-pumpung”, selagi hidup dimuka bumi memanjakan “keinginan” akan kenikmatan duniawi, kalau bisa yaa sepuas-puasnya. Tokh akhirnya HARUS… mati. Ya sudaah… mari kita lakukan apa saja yang kita sukai, adapun akibat perbuatan setiap orang… orang itu sendiri akan menaggung akibatnya. Gitu aja kok REPOT. Orang sudah ditakut-takuti akan kesengsaraan NERAKA…. juga tidak takut… kecuali yang masih berjiwa kekanak-kanakan dan .. takut kepada MEMEDI. Lhoo kok gituu? terpulang kembali kepada kita masig-masing. Kan kita pribadi adalah MAJIKAN dari diri ini, mau apa dan bagaimana tergantung perintah MAJIKAN. Dan majikan kita ialah NAFSU kita lihat s. al A’raaf Q.S. 7: 172.. Ingatlah TUHANmu bertanya : ” Bukankah AKU ini Tuhanmu ( sesembahanmu.) Ya yaa kebanyakan kita menyembah HAWA-NAFSU.sendiri. Mula-mula SESEMAHAN.. siHAWA-NAFSU memerintahkan sepasang asyik dan masyuk untuk berSENGGAMA dst, maka bermunculan manusia-manusia generasi penerus yang juga ” menyembah HAWA-NAFSU.” Pemutar balikan, memutar-mutar lidah hendak memadamkan CAHAYA ALLAH ditulis di s. atTaubah Q.S. 9: 32. Apakah kita akan ikut-ikutan memutar-mutar lidah hendak memadamkan CAHAya aLLAH ? mENGAPA ORANG HAMPIR-HAMPIR TIDAK MEMAHAMI ARTI KALIMAT DALAM BAHASANYA SENDIRI. S. AN nIISA q.s. 4: 78. Mari kita renungkan mendlam dan jangan hanya ikut-ikutan atau LATAH. Gunakan akal budi nurani s. al Baqarah Q.S. 2: 269. Maka barulah kita bisa mengerti HIKMAH dari Allah, kalau tidak ya nggeladrah saja sampai mati. Ya sudaaaaaag. Merdekaaa.